Kemenangan yang Tak
Terduga
Sekitar 6 tahun silam,
ada sebuah pengalaman yang sangat tak
kulupakan. Peristiwa tersebut terjadi saat aku menduduki kelas 6 Sekolah Dasar.
Kala itu, aku mendengar berita dari guru Bahasa Indonesiaku yang biasa dipanggil
Pak Irham, ia mengatakan bahwa sebentar
lagi Balai Bahasa akan mengadakan Lomba Mengarang Cerita. Lomba tersebut
merupakan lomba seperti membuat cerpen,
namun teknisnya kita hanya dapat memilih satu gambar dari lima gambar yang
mengandung berbagai tema yang berbeda. Namun, sebelum mengirimkan peserta untuk
mengikuti lomba tersebut, sekolah mengadakan seleksi terlebih dahulu di tingkat
sekolah kami. Siswa-siswi yang mengikuti seleksi di sekolah kami terhitung
cukup banyak, termasuk beberapa diantaranya teman sekelasku.
Awal penyeleksian, kami
disuruh berkumpul di mesjid sekolah kami. Disitu, kami di uji kespontanitasan
dalam berbicara. Pada tahap awal saja aku sudah sangat gerogi, apalagi
disaksikan oleh orang banyak. Aku ketika SD jauh lebih pemalu daripada diriku
yang sekarang, namun Alhamdulillah aku bisa melewati tahap awal. Kemudian tahap
kedua yaitu kami disuruh menuliskan sebuah cerita pendek yang bertemakan ‘Kasih
Sayang’. Nah, disitu aku agak sedikit lega setidaknya aku tidak disuruh menceritakan
secara lisan apa yang akan kusampaikan. Kemudian, setelah diumumkan, ada 2
orang yang berhasil lolos untuk dikirim mengikuti lomba tersebut sebagai
perwakilan dari sekolah. Dan salah satu dari 2 orang tersebut adalah aku dan
salah satu teman sekelasku, namanya Adam. Kemudian setelah pengumuman tersebut,
Pak Irham mengadakan latihan yang menurutku cukup intensif, setiap harinya
selepas solat zuhur kami selalu latihan untuk mengembangkan ide melalui
tulisan. Salah satu cara yang dilakukan beliau adalah memberikan kami kalender
yang didalamnya terdapat gambar-gambar kehidupan dan kami disuruh mengembangkan
sebuah cerita melalui gambar tersebut dan berbagai latihan seperti itu setiap
harinya.
Tibalah hari-H
dilaksanakan perlombaan, saat itu aku tidak terlalu berharap akan kemenangan,
karena melihat lawan-lawan dari sekolah lain nampaknya memiliki kemampuan yang
lebih besar dariku, pasalnya mereka terlihat asik membaca buku sebagai latihan,
aku yang sudah sangat lelah latihan memutuskan untuk mengikuti lomba dengan
enjoy dan rileks. Aku memilih gambar
bertemakan pegunungan yang berada di dekat sebuah kebun teh. Beberapa menit pun
terlewati, syukurlah sampai saat itu aku belum menemukan sedikit pun kesulitan.
Aku melihat ke kanan dan kiri, melihat ke arah peserta lain yang terlihat amat
serius menulis. Kemudian aku kembali melanjutkan tulisanku. Setelah waktu
habis, aku mengumpulkan lembar hasil kerjaku kepada panitia, begitu pula dengan
Adam yang memilih tema berbeda denganku. Kami menunggu pengumuman hingga siang,
sembari menunggu kami bercanda ria dengan kakak-kakak SMP yang bersekolah sama
denganku, mereka mengikuti lomba mengarang cerita cabang SMP kemudian makan
siang dengan nasi yang telah disediakan oleh panitia.
Dan saat pengumuman pun
tiba, cabang SMP terlebih dahulu diumumkan. Sayangnya, sekolah kami tidak ada
yang menang dari cabang SMP, mereka tampak agak sedikit kecewa saat itu, namun
sejurus kemudian mereka kembali tertawa dan bercanda lagi. Saat pengumuman
cabang SD pun tiba, aku merasa sedikit cemas dan ingin sekali rasanya langsung
pulang saja karena tak kuat mendengarkan pengumuman pemenang. Pengumuman
dimulai dari harapan 3, dan hingga sampai juara 3 aku belum mendengar nomor
pesertaku disebut. Aku mulai mengatur tubuhku agar tetap tenang tanpa kelihatan
terlalu berharap. Spontan ketika panitia hendak membacakan juara 2 aku
menyebutkan nomor pesertaku berharap semoga nomorku dipanggil. Dan alangkah
terkejutnya aku, begitupun kakak kelasku, Pak Irham dan temanku yang lainnya.
Dengan langkah yang sedikit sempoyongan karna masih tak percaya bahwa aku
diumumkan sebagai juara 2 ditambah lagi teman-teman yang menyoraki serta
iringan tepuk tangan dari seluruh peserta, aku maju ke atas panggung. Haru,
kaget dan malu yang aku rasakan ketika berdiri diatas panggung tersebut. Hingga
sekarang, aku masih selalu mengingat momen tersebut sebagai momen bahagia yang
paling berkesan dan tidak akan pernah kulupakan hingga sekarang. Bahkan aku masih
ingat nomor peserta yang aku dapatkan kala itu, B-29.
Akhirnya, aku
mendapatkan juara 2 Lomba Mengarang Cerita Se-Sumatera Utara yang
diselenggarakan oleh Balai Bahasa. Dari pengalaman tersebut, aku dapat
mengambil hikmah bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai
begitupula dengan pepatah lain yang mengatakan ‘Usaha Tidak Akan Pernah
Mengkhianati Hasil’.