Rabu, 27 September 2017

STORY OF MY LIFE



Kemenangan yang Tak Terduga
Sekitar 6 tahun silam, ada sebuah pengalaman  yang sangat tak kulupakan. Peristiwa tersebut terjadi saat aku menduduki kelas 6 Sekolah Dasar. Kala itu, aku mendengar berita dari guru Bahasa Indonesiaku yang biasa dipanggil Pak Irham, ia mengatakan bahwa  sebentar lagi Balai Bahasa akan mengadakan Lomba Mengarang Cerita. Lomba tersebut merupakan lomba seperti  membuat cerpen, namun teknisnya kita hanya dapat memilih satu gambar dari lima gambar yang mengandung berbagai tema yang berbeda. Namun, sebelum mengirimkan peserta untuk mengikuti lomba tersebut, sekolah mengadakan seleksi terlebih dahulu di tingkat sekolah kami. Siswa-siswi yang mengikuti seleksi di sekolah kami terhitung cukup banyak, termasuk beberapa diantaranya teman sekelasku.

Awal penyeleksian, kami disuruh berkumpul di mesjid sekolah kami. Disitu, kami di uji kespontanitasan dalam berbicara. Pada tahap awal saja aku sudah sangat gerogi, apalagi disaksikan oleh orang banyak. Aku ketika SD jauh lebih pemalu daripada diriku yang sekarang, namun Alhamdulillah aku bisa melewati tahap awal. Kemudian tahap kedua yaitu kami disuruh menuliskan sebuah cerita pendek yang bertemakan ‘Kasih Sayang’. Nah, disitu aku agak sedikit lega setidaknya aku tidak disuruh menceritakan secara lisan apa yang akan kusampaikan. Kemudian, setelah diumumkan, ada 2 orang yang berhasil lolos untuk dikirim mengikuti lomba tersebut sebagai perwakilan dari sekolah. Dan salah satu dari 2 orang tersebut adalah aku dan salah satu teman sekelasku, namanya Adam. Kemudian setelah pengumuman tersebut, Pak Irham mengadakan latihan yang menurutku cukup intensif, setiap harinya selepas solat zuhur kami selalu latihan untuk mengembangkan ide melalui tulisan. Salah satu cara yang dilakukan beliau adalah memberikan kami kalender yang didalamnya terdapat gambar-gambar kehidupan dan kami disuruh mengembangkan sebuah cerita melalui gambar tersebut dan berbagai latihan seperti itu setiap harinya. 

Tibalah hari-H dilaksanakan perlombaan, saat itu aku tidak terlalu berharap akan kemenangan, karena melihat lawan-lawan dari sekolah lain nampaknya memiliki kemampuan yang lebih besar dariku, pasalnya mereka terlihat asik membaca buku sebagai latihan, aku yang sudah sangat lelah latihan memutuskan untuk mengikuti lomba dengan enjoy dan rileks.  Aku memilih gambar bertemakan pegunungan yang berada di dekat sebuah kebun teh. Beberapa menit pun terlewati, syukurlah sampai saat itu aku belum menemukan sedikit pun kesulitan. Aku melihat ke kanan dan kiri, melihat ke arah peserta lain yang terlihat amat serius menulis. Kemudian aku kembali melanjutkan tulisanku. Setelah waktu habis, aku mengumpulkan lembar hasil kerjaku kepada panitia, begitu pula dengan Adam yang memilih tema berbeda denganku. Kami menunggu pengumuman hingga siang, sembari menunggu kami bercanda ria dengan kakak-kakak SMP yang bersekolah sama denganku, mereka mengikuti lomba mengarang cerita cabang SMP kemudian makan siang dengan nasi yang telah disediakan oleh panitia. 

Dan saat pengumuman pun tiba, cabang SMP terlebih dahulu diumumkan. Sayangnya, sekolah kami tidak ada yang menang dari cabang SMP, mereka tampak agak sedikit kecewa saat itu, namun sejurus kemudian mereka kembali tertawa dan bercanda lagi. Saat pengumuman cabang SD pun tiba, aku merasa sedikit cemas dan ingin sekali rasanya langsung pulang saja karena tak kuat mendengarkan pengumuman pemenang. Pengumuman dimulai dari harapan 3, dan hingga sampai juara 3 aku belum mendengar nomor pesertaku disebut. Aku mulai mengatur tubuhku agar tetap tenang tanpa kelihatan terlalu berharap. Spontan ketika panitia hendak membacakan juara 2 aku menyebutkan nomor pesertaku berharap semoga nomorku dipanggil. Dan alangkah terkejutnya aku, begitupun kakak kelasku, Pak Irham dan temanku yang lainnya. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan karna masih tak percaya bahwa aku diumumkan sebagai juara 2 ditambah lagi teman-teman yang menyoraki serta iringan tepuk tangan dari seluruh peserta, aku maju ke atas panggung. Haru, kaget dan malu yang aku rasakan ketika berdiri diatas panggung tersebut. Hingga sekarang, aku masih selalu mengingat momen tersebut sebagai momen bahagia yang paling berkesan dan tidak akan pernah kulupakan hingga sekarang. Bahkan aku masih ingat nomor peserta yang aku dapatkan kala itu, B-29. 

Akhirnya, aku mendapatkan juara 2 Lomba Mengarang Cerita Se-Sumatera Utara yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa. Dari pengalaman tersebut, aku dapat mengambil hikmah bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai begitupula dengan pepatah lain yang mengatakan ‘Usaha Tidak Akan Pernah Mengkhianati Hasil’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-rehat-

penyakit hati; seperti menginginkan yang tak pernah terjadi. visualisasi tentang kesempurnaan yang sudah habis masanya, tak mungkin lagi ...